Buku Ajar Teori Bilangan
Teori Bilangan
Profil penulis
5.243 karya publik ditemukan.
Teori Bilangan
Tarikh
Zikir
Kitab Keluaran dan Bilangan menggambarkan campur tangan ajaib Tuhan dalam pelarian bangsa Israel dari Mesir. Satu-satunya persyaratan orang Israel adalah iman kepada Tuhan. Setelah melarikan diri, Tuhan memberikan Hukum kepada umat-Nya dan menegakkan ibadah yang benar. Tuhan juga mengajari Israel persyaratan-persyaratan-Nya yang adil yang menginsafkan Israel akan dosa, ketentuan-ketentuan imamat, dan cara pengampunan, penyucian, dan pemulihan persekutuan. Tuhan juga memimpin mereka untuk membangun Kemah Suci dan menghubungkan diri-Nya dengan umat-Nya melalui perjanjian-Nya dengan Abraham dan Musa. Dia tinggal di antara mereka dalam awan kemuliaan yang memimpin mereka melewati padang gurun. Tahun -tahun pengembaraan itu berlangsung selama empat puluh tahun. Bangsa Israel diselamatkan dari Mesir, dipimpin oleh Musa, memiliki Hukum dan Kemah Suci, dan secara supernatural dibimbing oleh awan dan tiang api. Seharusnya mudah untuk mengikuti kehendak Tuhan yang sempurna dengan mengikuti semua mukjizat dan kepemimpinan Musa, namun mereka gagal berulang kali, sebagaimana dirinci dalam Kitab Bilangan.
Pelatihan Musim Panas 2019 (01 – 06 Juli 2019) Kristalisasi Kitab Bilangan (2) 13. Sketsa Penting dari Wahyu Ilahi dalam Kitab Keluaran, Imamat, dan Bilangan mengenai Ekonomi Allah dengan Umat Pilihan dan Tebusan-Nya 14. Pertumbuhan dan Kematangan yang Diperlukan bagi Pembentukan Pasukan untuk Melindungi Kesaksian Allah dan Berperang bagi Pergerakan-Nya di Bumi 15. Perubahan Pola Makan Kita kepada Kristus yang Surgawi sebagai Realitas Manna Surgawi Sehingga Kita Bisa Disusun Ulang dengan Kristus untuk Menjadi Tempat Kediaman Allah 16. Berbicara kepada Batu untuk Minum dari Roh itu sebagai Air Hayat dan Menggali Sumur untuk Membiarkan Roh itu sebagai Air Hayat Mengalir dengan Leluasa di dalam Kita 17. Air Pentahiran 18. Kristus yang Dilambangkan dengan Ular Tembaga 19. Kristus yang Almuhit Menjadi Bagian yang Ditentukan untuk Kaum Saleh, menurut Pilihan Allah, sebagai Warisan Ilahi Mereka bagi Kenikmatan Mereka 20. Otoritas, Pemberontakan, Penegasan Utusan Otoritas, dan Perwakilan Allah yang Tepat 21. Musa Damba agar Seluruh Umat Yehova Menjadi Nabi 22. Kristus sebagai Bintang dari Yakub 23. Visi Sang Serba Cukup—Pandangan Ilahi Umat Allah 24. Perlunya Peperangan Rohani dan Umat Allah Terbentuk menjadi Pasukan yang Siap Berperang
Siroh
Alquran
Seorang lelaki bertanya kepada Dzûn-Nûn al-Mishrî tentang keadaannya. Ia menjawab: Bagiku, tidak ada keadaan yang kuridai dan tidak ada pula keadaan yang tak kuridai. Bagaimana aku dapat meridai keadaanku untuk diriku sendiri, sedangkan aku tidak bisa memenuhi apa yang Dia kehendaki dariku? Bagaimana pula aku dapat tidak meridai keadaanku, sedangkan tidak terjadi suatu keadaan pada diriku kecuali keadaan yang Dia kehendaki? Aku tidak tahu manakah yang lebih baik: baiknya ahwalku dalam kebaikan perbuatan baik-Nya kepadaku atau baiknya ahwalku dalam keadaan burukku ketika keadaan buruk itu yang dipilihkan untukku? Alangkah indahnya perkataan itu! Yang mengatakannya adalah orang yang cinta kepada Allah dan sibuk dengan-Nya, menyerahkan kendali dirinya kepada Allah dan rida kepada-Nya dalam segala keadaannya, serta [teguh] berdiri di hadapan Allah Swt. Ia selalu merenungkan keindahan perbuatan-perbuatan-Nya, sehing ga dirinya pun menciut. Ia menjadi tidak rida dan tidak pula murka terhadap seluruh keadaannya. Dirinya telah luruh dalam keridaan kepada Tuhannya. Demikian karena baik dalam keadaan taat maupun dalam keadaan maksiat, dirinya selalu menunaikan hak Allah. ia ridai semen Keadaan taat, bagaimana mungkin tara keadaan taatnya pasti berkekurangan?! Keadaan maksiat, bagaimana mungkin ia murkai sedangkan keadaan maksiat itu merupakan pilihan Allah untuknya?! Kalau begitu, yang terbaik adalah berserah diri dan rida serta beristigfar dan memuji-Nya. Menghayati perjalanan hidup, karakter, dan kesucian-hati orang-orang saleh merupakan salah satu penghayatan terbaik yang mampu mengukuhkan cita-cita dan menanamkan cinta pada kebaikan. Buku ini berisi 89 pelajaran hidup dari 61 orang arif lintas negeri dan masa, yang dengan menyebut nama mereka saja, rahmat terharapkan. "Ketika orang-orang saleh disebut, bercucuranlah rahmat-rahmat," tutur para ulama dahulu. Lalu, bagaimana jika kita membaca berbagai kearifan, petuah, dan cahaya mereka yang turun dengan deras kepada kita? Kisah para wali yang memperlihatkan akhlak mereka dan keutamaan yang mengantar mereka menjadi kekasih Allah itu tak lain dimaksudkan untuk menghangatkan cinta kepada mereka dan cinta untuk mengikuti mereka. Karena itulah ulama salaf Sufyan al-Tsauri biasa berkata, "Bila kami tidak termasuk orang saleh, sungguh kami ini mencintai orang-orang saleh."
Tarikh Tasyri
Imam al-Tirmidzî menyelamatkan kita dari berhenti di permukaan dan mengajak kita menyelami dimensi batin agama. Kita diajak untuk menjelajah. Tepatnya, kita tidak hanya diminta untuk membaca, tapi kita juga diminta untuk merasakannya. Diterjemahkan dari kitab klasik yang langka, buku ini mencakup dua tema pokok: pertama, membahas makna shalawat Allah untuk hamba-hamba-Nya, rahmat-Nya kepada mereka, kecintaan-Nya kepada mereka, kedekatan-Nya dengan mereka, dan pengenalan diri-Nya kepada mereka supaya mereka mengenal-Nya. Ini semua merupakan kebaikan Allah kepada semua makhluk-Nya. Karena itu, mereka wajib membalas kebaikan-Nya itu sebagai tanda terima kasih dan keikhlasan kepada-Nya. Kedua, mengupas hakikat sabar, syukur, pujian, tasbih, istighfar, shalat, tobat, serta segala sesuatu yang berhubungan dengan ibadah seorang hamba kepada Penciptanya. Kita juga akan melihat bagaimana aspek-aspek ibadah ini menjadi jalan untuk memperoleh rahmat dan kasih-sayang Allah serta jalan bagi tercapainya pertolongan dan perlindungan-Nya. Selain mengacu pada Al-Qur’an dan sunnah, setiap uraian senantiasa diselingi analisis bahasa dan perumpamaan yang memudahkan. Selamat meningkatkan kualitas iman dengan meningkatkan pengetahuan dan kearifan bersama pakarnya.
Alquran Cordoba Muslimah Auliya Tajwid Tematik A6 Pembahasan 4 (empat) Tema Pokok: Aqidah-Akhlak Hukum Ibrah Tokoh Wanita
Siroh